Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Deep Thinking

BERPIKIR SECARA MENDALAM
HARUN YAHYA

Banyak yang beranggapan bahwa untuk "berpikir secara mendalam", seseorang perlu
memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah
ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh,
mereka telah menganggap "berpikir secara mendalam" sebagai sesuatu yang
memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini
hanyalah untuk kalangan "filosof".

Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Alloh mewajibkan
manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Alloh berfirman bahwa Al-
Qur'an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan:
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya
mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. Shod, 38: 29).

Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas
sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir.
Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan
terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti
"ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak
menghiraukan, dalam kecerobohan".

Kelalaian manusia yang tidak berpikir adalahakibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan dengan hal tersebut, Alloh memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai:
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raaf, 7: 205)
"Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara
telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman." (QS.
Maryam, 19: 39)

Dalam Al-Qur'an, Alloh menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar,
kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan
mereka takut kepada Alloh. Sebaliknya, Alloh juga menyatakan bahwa orang-orang
yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun
hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika
ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa
mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Alloh.
Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktivitas hidup
tanpa disertai rasa takut kepada Alloh. Mentalitas golongan ini sebagaimana
digambarkan dalam Al-Qur'an:
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu
mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Alloh." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
ingat?"
Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy
yang besar?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Alloh." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
bertakwa?"
Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu
sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika
kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Alloh." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka
dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?"
"Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya
mereka benar-benar orang-orang yang berdusta." (QS. Al-Mu'minuun, 23: 84-90)
Berpikir dapat membebaskan seseorang dari belenggu sihir
Dalam ayat di atas, Alloh bertanya kepada manusia, "…maka dari jalan manakah
kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai makna
kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang
tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan
menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di
depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang salah
menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yang sederhana
sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami peristiwaperistiwa
luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian
rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara
keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan tahun serta
menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi
adalah kelumpuhan akal ini.
Pengaruh sihir yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:
Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma,
padahal kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan
keseluruhan bumi adalah sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu
sendiri. Ini berarti bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan
kita, dibawah telapak kaki kita!

Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang
mendidih dengan suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu
memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman,
tetangga, penulis artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan
professor mereka di universitas tidak juga memikirkannya.

Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini. Anggaplah
seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di sekitarnya.

Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah kira-kira yang akan
muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat
sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan
bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus? Mari kita berbicara
lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa bumi tempat ia berada
hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap
dan hampa yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya
yang lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan
berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak mungkin
meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya.

Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di tempat
yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berpikir
pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya
senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia
lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang
sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki
bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan yang
sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa manusia.

Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala makhluk di
atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak
Alloh, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat
yang diciptakan-Nya.

Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan contoh-contoh
yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi contoh yang
mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana "kondisi lalai" dapat
mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya.
Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat cepat.

Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan pernah
meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada
kematian. Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan
secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika
ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik
tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan tidak
berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya
untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian
menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa
pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil, rumah,
ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan sesuatu untuk
kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk tidak berpikir tentang
kematian.

Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu,
percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah
kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka, tergantung
dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah
sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa manusia
bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir yang telah menutup atau
membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan merenung.

Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara
berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat
kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yang
diberitakan Alloh kepada kita dalam Al-Qur'an :
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami
singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada
hari itu amat tajam." (QS. Qof, 50: 22)

Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir,
akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan
ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat.

Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara sengaja
untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan
hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah
bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan
mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui
kenyataan. Alloh telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang
merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat
mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang
hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan
dari apapun yang Alloh ciptakan setiap saat.

Seseorang dapat berpikir kapanpun dan dimanapun
Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang
dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil,
bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV
ataupun ketika sedang makan siang.

Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada
di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai
macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang
sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara
mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang
ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis,
bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat sangat
berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:
Alloh telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda
satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha
Besaran Alloh.

Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan
mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang.
Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya
banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki
dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih,
serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan
dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai
anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek
atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari sudut pandang ini,
ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting
apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico,
tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun
lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup.

Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya
sendiri: "Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang
menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah
meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara
sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua
manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?"

Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir
dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.
Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi
setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah yang sedang Anda pikirkan saat ini?",
maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya
tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka.

Namun, seseorang bisa juga "berpikir" hal-hal yang "bermakna", "penuh hikmah" dan
"penting" setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan
mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.

Dalam Al-Qur'an, Alloh menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan
dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil
pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imron, 3: 190-191).

Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka
yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan
Alloh dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Alloh.
Berpikir dengan ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Alloh
Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan
kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif.
Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik dari
dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada fisiknya
dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa iri
terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Alloh. Jika ridha
Alloh yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk rupa orang yang
ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Alloh yang sempurna. Dengan melihat orang yang
rupawan sebagai sebuah keindahan yang Alloh ciptakan akan memberikannya
kepuasan. Ia berdoa kepada Alloh agar menambah keindahan orang tersebut di
akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta kepada Alloh agar dikaruniai
keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal serupa seringkali dialami oleh
seorang hamba yang sedang diuji oleh Alloh untuk mengetahui apakah dalam ujian
tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir yang baik yang diridhai Alloh atau
sebaliknya.

Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan perenungan
ataupun proses berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat, masih ditentukan
oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari apa yang ia
renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang hendaknya selalu
berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Alloh. Alloh berfirman
dalam Al-Qur'an :
"Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan
menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali
orang-orang yang kembali (kepada Alloh)." (QS. Ghofir, 40: 13).

DIAMBIL DARI "BAGAIMANA SEORANG MUSLIM BERPIKIR?"
KARYA HARUN YAHYA, ROBBANI PRESS, INDONESIA, 2000

Readmore »» Deep Thinking
GAMBARAN KEHIDUPAN MANUSIA SETELAH MATI

Sahabat Ma'adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah...terangkan kepadaku
tentang makna firman Allah "ketika ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok".
Lalu menangislah Rasulullah SAW. Cucuran air matanya membasahi pakaiannya. Engkau telah
menanyakan sesuatu yang dahsyat. Umatku akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam 12
kelompok-kelompok tabiat.
• Kelompok pertama : Dibangkitkan tanpa kaki dan tangan, seraya terdengar suara dari sisiNya,
"Mereka adalah orang-orang yang mengganggu tetangganya. Maka inilah ganjarannya dan
nerakalah tempatnya".

• Kelompok kedua : Dibangkitkan dalam bentuk babi, seraya terdengar suara dari sisiNya,
"Inilah balasan bagi orang-orang yang bermalas-malasan melakukan sholat dan nerakalah
tempatnya".

• Kelompok ketiga : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan perutnya besar menggunung
yang dipenuhi ular dan kalajengking, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran
orang-orang yang menahan zakat dan nerakalah tempatnya".

• Kelompok keempat : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan darah mengalir dari mulut,
seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang berdusta dalam
perkara jual beli dan nerakalah tempatnya".

• Kelompok kelima : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan bau busuk, lebih busuk dari
bau bangkai. seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang
melakukan maksiat (perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat islam) secara sembunyi
karena takut terlihat orang tapi tidak takut dari pengawasan Allah dan nerakalah tempatnya".

• Kelompok keenam : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan terputus lehernya, seraya
terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang memberikan kesaksian
palsu dan nerakalah tempatnya".

• Kelompok ketujuh : Dibangkitkan dari kuburnya tanpa memiliki lidah dan dari mulutnya keluar
darah dan nanah. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang
tidak mau memberikan kesaksian dan nerakalah tempatnya".

• Kelompok kedelapan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan tertunduk dan kedua
kakinya berada diatas kepala, seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orangorang
yang suka melakukan zina dan terlanjur mati sebelum bertobat dan nerakalah
tempatnya".

• Kelompok kesembilan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berwajah hitam dan
matanya biru serta perutnya penuh api, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran
bagi orang-orang yang memakan harta dan merampas hak anak-anak yatim secara zalim dan
nerakalah tempatnya".

• Kelompok kesepuluh : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan sakit kusta dan sopak,
seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang mendurhakai
orang tuanya dan nerakalah tempatnya".

• Kelompok kesebelas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan buta hati, buta mata.
Giginya seperti tanduk kerbau. Bibir dan lidahnya bergelantungan mencapai dada, perut dan
paha. Dan dari perutnya keluar kotoran. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran
bagi orang-orang yang meminum khamr (yang memabukan/alkohol) dan nerakalah
tempatnya".

• Kelompok kedua belas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan wajah bercahaya, seperti
bulan purnama. Melewati Shirath Al-Mustaqim secepat kilat menyambar angin. Seraya
terdengar suara dari sisiNya "Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal sholeh
kebajikan. Menjauhi segala kemaksiatan. Rajin memenuhi panggilan sholat dan mati setelah
bertobat. Maka ganjaran mereka adalah Pengampunan, Rahmat, dan Ridho serta Surga dari
ALLAH SWT".

"Ya Alllah,,, masukanlah hambaMU ini ke dalam golongan orang-orang yang selalu beriman
kepadaMu ya Allah,,, jauhkan panas api neraka dari kami ya Allah....."

(Sumber : Artikel Islami, 14 Mei 2006 - 22:57)


Readmore »» Bangkit dari kubur

Kisah-kisah Islami

Buat teman-teman yang ingin belajar dari kisah-kisah islami yang diambil dari Al-Qur'an dan juga kitab-kitab islam seperti :

  1. KISAH QARUN
  2. MALAIKAT YG MENJELMA
  3. HARI SABTUNYA ORANG YAHUDI
  4. KHALIFAH GILA?
  5. KISAH SESENDOK MADU
  6. KISAH HARUT DAN MARUT
  7. ISRA BERSAMA RASULULLAH SAW KE LANGIT YANG PALING TINGGI
  8. IKRIMAH BIN ABU JAHAL
  9. ALLAH SEBAGAI SAKSI & PENJAMIN
  10. WA'ILAH ISTERI NABI LUTH MATI DALAM KESESATAN
  11. IBRAHIM DAN ISMAIL MENINGGIKAN BAITULLAH
  12. SEPOTONG ROTI PENEBUS DOSA
  13. KETABAHAN BUDAK ZUNAIRAH
  14. UMMU SULAIM PERISAI RASULULLAH
  15. SEDEKAH
  16. AHLI SURGA
  17. MALAIKAT DALAM PERANG AL-AHZAB
  18. SESUNGGUHNYA AGAMA DI SISI ALLAH ADALAH ISLAM
  19. ALLAH TIDAK MEMBEBANI
  20. TSA'LABAH BIN ABDURRAHMAN RA
  21. TOBATNYA ABU HURAIRAH RA.
  22. PANGLIMA ROMAWI YG BERTOBAT
  23. TUKANG FITNAH & SEORANG GADIS
  24. GARA-GARA SEEKOR ULAR
  25. TINGGALKAN KHIANAT MENDAPAT RAHMAT
  26. NABI MUSA DAN SEORANG PEZINA
  27. UKHUWAH
  28. DENGKI
  29. KESEJAHTERAAN HIDUP BOLEH DICARI, ASALKAN…..
  30. KEYAKINAN DAN PRASANGKA BAIK
  31. SIKAP WARA' MENGUNTUNGKAN
  32. KITA INI PENGIKUT SIAPA
  33. DOA UNTUK SI MAYIT
  34. SIAPA YANG LEBIH PARAH ?
  35. MEMBUKA PINTU SORGA
  36. TOBATNYA KAUM NABI MUSA AS.
  37. NABI SULAIMAN DAN SEMUT
  38. TERKENA API DI KUBURAN
  39. AMANAH SEORANG SAHABAT
  40. AZAB KAUM NASRANI
  41. HIDANGAN
  42. ORANG BERIMAN
  43. AMAL BURUK
  44. TOBATNYA AL-QASS
  45. KEUTAMAAN AL-FATIHAH
  46. JAMIL BUTSAINAH
  47. BANYAKLAH BERZIKIR
  48. PAKU DI TIANG
  49. ANDAIKATA LEBIH PANJANG LAGI
  50. KISAH TSABIT BIN IBRAHIM
  51. SANG SUFI
  52. KISAH POHON APEL
  53. JANDA JELATA
  54. WANITA JELATA
  55. AL-QAMAH DIBAKAR RASUL
  56. PEMUDA & AYAHNYA YG BERUBAH MENJADI HIMAR
  57. KEZALIMAN SYADAD BIN 'AAD
  58. BERSAMA SEORANG PEMUDA PENGGALI KUBUR
  59. PENDUDUK SYURGA
  60. TANGISAN ISAM BIN YUSUF
  61. DIALOG IMAM ABU HANIFAH
  62. UMAR BIN KHATTAB
  63. MENTAATI PERINTAH DAN MEYAKINI RAHMAT
  64. MAKAN SAJA DULU ITU SEMUA
  65. PAHITNYA OBAT
  66. NILAI PERSAHABATAN
  67. ABU YAZID SANG RAJA PARA MISTIK
  68. DOA MUSTAJAB
  69. LUQMAN
  70. Al-An'aam 151
  71. TARIQ BIN ZIYAD
  72. BIBIT DARI SEGALA SESUATU


Readmore »» Kisah-kisah Islami

Sebuah Kisah Nyata Dari Jordan

Sepasang wanita muda sedang duduk duduk pada sebuah bar dihotel berbintang lima, dengan pemandangan “Laut Mati” (Dead Sea), sekitar 40 km dari kota Amman Ibukota Jordan, hotel itu terletak sangat dekat dengan perbatasan Israel, mereka sedang menikmati “Tequilla”, itulah salah satu jenis minuman keras yang paling umum disana.

Ketika dalam perjalanan pulang, keduanya menyaksikan seorang wanita yang tergeletak ditengah jalan, keadaannya sangat mengerikan, wanita itu sangat dikenal oleh keduanya, seorang pelacur yang selalu mabuk dari hasil kerjaannya, wanita itu tergeletak ditengah jalan dalam keadaan tak bernyawa, perutnya yang buncit dan menonjol menunjukkan bahwa ia sedang hamil tua telah pecah, sedangkan dilehernya masih tergantung termos besi yang berisi arak. wanita itu tewas disebabkan menyeberang dalam keadaan mabuk. Tubuhnya yang kurus dengan perut yang buncit itu dihantam sebuah truk peti kemas hingga terlempar. belum cukup hantaman truk besar itu melandanya, tubuh wanita itu bagaikan panah lepas dari busurnya menghantam tebing karang disamping jalan. lalu baru tubuh penuh dosa itu terhempas di kerikil tajam di teras jalan. tulang kepalanya remuk, sebagian kulit kepala dan rambutnya masih menempel di tebing karang. paha kanannya sudah terpisah dari tubuhnya. perutnya robek serta kepala bayi kecil tersembul dari perut ibunya yang bermandikan darah dan arak yg berasal dari termos yang penyok sekalian meremukkan tulang rusuknya, bayi itu masih tampak bergerak gerak, terkejang-kejang, lalu diam untuk selamanya, pemandangan menyeramkan itu membuat kedua wanita itu pucat pasi dan jatuh pingsan.

Keesokan harinya kedua wanita itu saling bertemu di sebuah Mall di Pusat kota Amman, akan tetapi yang satu sudah jauh berubah, ia telah mengenakan jilbab lengkap, wajahnya sudah memancarkan cahaya tobat, dan kelopak matanya membengkak karena banyak menangis, wanita kedua tampak kaget, “Hei…apa aku tak salah lihat ???” serunya dengan pandangan keheranan.
Wanita pertama hanya menunduk dan berkata lirih, “Aku telah kembali pada bimbingan Tuhanku, aku takut dan malu pd Nya, aku jijik terhadap diriku, aku rindu pada keindahan, aku rindu pada kesucian, aku rindu pada kemuliaan, hanya Tuhanku yang mau mema’afkanku, hanya Tuhanku yang dapat memuliakanku, hanya Tuhanku yang dapat menyucikanku…” belum selesai ia berbicara wanita kedua sudah berlalu dari hadapannya.

Tiga bulan berlalu tanpa terasa, kedua wanita itu sudah tak pernah berhubungan lagi, wanita pertama sedang asyik menikmati cahaya ayat ayat Allah, ia duduk di kursi kayu di beranda rumahnya, melewatkan sore harinya bersama Al Qur’an, yang dahulu sore harinya ia habiskan bersama Tequilla. Tiba tiba Ponselnya berbunyi seakan hendak memutus kenikmatannya, tetapi ia enggan memutus ngajinya, ia biarkan selular itu berbunyi, berhenti dan berbunyi lagi, lalu berhenti dan berbunyi lagi, akhirnya dengan sangat berat ia menghentikan bacaann Al Qur’annya dan menjawab telepon, ternyata sipenelepon adalah temannya yang sudah tiga bulan tak pernah mau berhubungan dengannya, Temannya berkata lirih “Bagaimana sih caranya bertobat..? ”.Dengan gembira wanita shalihah itu menjelaskan cara cara shalat, membaca Al Qur’an dan ibadah ibadah Indah lainnya, tetapi temannya terdiam dan berkata dengan berat, “Sholat..?, pake jilbab..?, aduh malas ah, aku berat melakukannya, tapi…., aku butuh ketenangan.”. wanita shalihah itu berusaha meyakinkan bahwa Ibadah dengan diawali tobat adalah ketenangan yang sangat indah, namun temannya memang kepala batu, seraya berkata, “ngga deh.., aku belum mau jadi biarawati..!”, seraya memutus hubungan teleponnya.

Tiga hari kemudian wanita shalihah itu mendapat kabar bahwa temannya telah menemui ajalnya. Lalu ia bergegas untuk melayat kerumah temannya dan ternyata jenazah telah menuju pusara untuk dimakamkan. Sesampainya ia dirumah temannya ia bertemu ibu dari temannya tsb yang juga terlambat, karena datang dari luar kota. Ibu itu tergopoh gopoh menuju pusara anak perempuannya didampingi si wanita shalihah. Ketika tiba ternyata penguburan telah selesai. Si ibu berteriak menjerit jerit, ia menjambak rambut dan merobek bajunya memaksa untuk melihat jenazah anaknya terakhir kali. Penguburan dan talqin sudah usai, namun permintaan ibu membuat para hadirin menjadi bingung. Mereka berusaha menyabarkan Sang ibu, namun ibu itu terus memaksa dengan terus merobeki bajunya. Akhirnya permintaannya pun dengan berat diterima, kuburan itu di gali lagi atas permintaan keluarganya. penggalipun dengan cepat menggali pusara itu. Namun ketika sampai pada kayu penutup mayat, ternyata kayu kayu itu sudah hancur. mereka menyingkirkan kayu kayu itu dengan penasaran…semua wajah melongokkan pandangannya ke liang kubur. Lalu kayu kayu hancur itu pun disingkirkan dengan hati-hati, maka terlihatlah pemandangan yang sangat mengerikan. Kain kafan penutup mayat itu sudah hancur berserakan, mayat wanita itu hangus terbakar, rambutnya kaku bagaikan jeruji besi, hampir mirip sapu ijuk, kedua bola matanya berada dipipinya dalam keadaan kuncup bagaikan buah kering yang terbakar. Dan lidahnya terjulur keluar serta dari mulut,mata dan telinganya mengalirkan asap yang berbau daging hangus….

Semua sosok yang menyaksikan pemandangan itu terlonjak mundur. Ibu dan wanita shalihah itu sudah sedari tadi jatuh pingsan. Dan para penggali kubur yang sudah melompat keluar liang itu dengan tanpa pikir panjang menimbun liang itu dengan cepat dan lari meninggalkan pusara.

Wanita shalihah itu semakin giat beribadah. Ibu wanita malang tadi sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Dan kubur itu menjadi kuburan terakhir yang dimakamkan di pemakaman itu, karena tak ada lagi orang yang mau menguburkan keluarganya di makam itu.
Firman Allah :

“DAN PERUMPAMAAN PERUMPAMAAN ITU KAMI PERLIHATKAN PADA MANUSIA AGAR MEREKA MAU BERFIKIR” (QS Al Hasyr-21).
Readmore »» Sebuah Kisah Nyata Dari Jordan

By Glenn Kessler

President Obama reacted to the unfolding events in Iran by issuing a statement calling on the government of Iran to "stop all violent and unjust actions against its own people."

The White House said the president had been monitoring the situation during the day, meeting repeatedly with senior advisers. But the statement largely echoed the president's measured response since the election crisis began a week ago.

"The Iranian government must understand that the world is watching," the president's statement said. "The universal rights to assembly and free speech must be respected, and the United States stands with all who seek to exercise those rights."

The president has not yet said whether he thinks the election was stolen but he hinted at that with a reference to "truth" in the later part of his statement.

"Martin Luther King once said -- 'The arc of the moral universe is long, but it bends toward justice.' I believe that. The international community believes that. And right now, we are bearing witness to the Iranian peoples' belief in that truth, and we will continue to bear witness," the president said.

The president also linked the response of the Iranian government to this crisis to its desire for a greater role in the region. "If the Iranian government seeks the respect of the international community, it must respect the dignity of its own people and govern through consent, not coercion," the president said.


Readmore »» Obama to Iran: 'Stop All Violent and Unjust Actions'

Ibadah Kok Cari Untung


Dikutip dari Al Hikam Syeikh Ibnu 'Athaillah As-Sakandary

Siapapun yang beribadah kepada Allah karena motivasi kepentingan tertentu dengan harapan dariNya, atau beribadah dalam rangka menolak bencana dari Allah, maka sesungguhnya orang tersebut tidak berpijak dengan benar sesuai sifatNya.

Kenapa demikian? Karena betapa banyaknya orang beribadah kepada Allah tidak didasari keikhlasan (Lillaahi Ta'ala), tetapi demikian yang lain, kepentingan duniawi, naiknya jabatan, dagangannya laku, bahkan demi menolak bala dan bencana atau siksa.

Apakah Allah Ta'ala memerintahkan kita melakukan ibadah dan menjauhi laranganNya karena sebuah sebab dan alasan-alasan tertentu? Bukankah kita beribadah karena kita harus melakukan atau menyambut sifat RububiyahNya melalui sifat Ubudiyah kita? Bukankah segalanya sudah dijamin Allah, dan segalanya dariNya, bersamaNya, menuju kepadaNya?

Apakah Allah tidak layak disembah, tidak layak menjadi Tuhan, tidak layak diabdi dan diikuti perintah dan laranganNya, manakala Allah tidak menciptakan syurga dan neraka?

Bukankah Rosulullah saw, mengkhabarkan, "Janganlah diantara kalian seperti budak yang buruk, jika tidak diancam ia tak pernah bekerja. Juga jangan seperti pekerja yang buruk jika tidak diberi upah tidak bekerja..."

Dalam kitab Zabur Allah berfirman, "Adakah orang yang lebih zalim dibanding orang yang menyembahKu karena syurga atau takut neraka? Apakah jika Aku tidak menciptan syurga dan neraka, Aku tidak pantas untuk dituruti?"

Suatu hari Junaid Al-Baghdady dibangunkan oleh pamannya sekaligus gurunya, Sary as-Saqathy.
"Ada apa paman?"
"Aku melihat seakan-akan aku ada dihadapan Allah dan Dia berkata kepada saya.... Wahai Sary, Aku meniciptakan makhluk mereka mersa mencintaiKu. Begitu aku menciptakan dunia, mereka lari semua dariKu dan tinggal sepuluh persen. Lalu Aku Menciptakan syurga, sisa makhluk itupun lari semua (ke syurga), tinggal satu persen saja. Lalu Aku memberikan cobaan pada mereka ini, mereka pun lari semua dariKu tinggal 0,9 persen. Aku bicara pada makhlukKu yang tersisa itu yang masih bersamaKu. dan merekapun menjawab, "Manakala Engkau Sendiri yang memberi cobaan, alkukanlah sekehendakMu..."
Mereka itulah hamba-hambaKu yang sebenarnya.

Semua ini jadi renungan kita agar dalam setiap niat dan motivasi ibadah kita agar semata hanya menuju Allah, Lillahi Ta'ala, agar kita terbebas dari penjara kemakhlukan, dan menyatu dalam musyahadah denganNya. Ikhlas adalah ruh dari seluruh ibadah kita. Bukan yang lainnya.


Readmore »» Ibadah Kok Cari Untung

Keteladanan


Seorang Tukang Kayu yang Menjaga Kehormatannya
Dikutip dari Amru Khalid (Menjemput Hidayah) Akbar

Mungkin diantara kita ada yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Yusuf dan Ubaidillah (yang menjaga kehormatan karena digoda oleh perempuan karena takut Allah)bukanlah sesuatu yang perlu dikagumi. Yusuf dan Ubaidillah mudah menolak ajakan maksiat karena saat itu godaan belum begitu besar dan tidak sebanyak sebagaimana yang ada sekarang.

Boleh saja ada yang mengatakan demikian, tapi saya juga akan membuktikan bahwa apa yang ia katakan itu salah. Saya akan kemukakan sebuah kisah nyata yang terjadi pada masa kini, yaitu tentang seorang tukang kayu yang bekerja dirumah seorang wanita kaya. Saat itu tukang kayu sedang bekerja dirmahnya, datanglah pemilik rumah dan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan istri al-aziz terhadap Yusuf a.s.

Tukang kayu itu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan melakukan hal sekeji itu." Lantas ia segera berlari kearah pintu.
Tapi wanita pemilik rumah mengambil pistol dan mengarahkan ke tubuhnya seraya berkata, "Jika engkau tidak menuruti keinginanku, aku akan membunhmu!" Tukang kayu itu tertegun dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan semuanya kepada Allah. Lantas Tukang kayu itu berkata kepadaku (penulis, penj), "Wanita itu pada akhirnya mendorongku agar aku keluar dari rumahnya.

Lantas akupun keluar dari rumahnya dengan penuh rasa bahagia sampai tidak terasa air mataku bercucuran."
Ya Allah, berilah kekuatan kepada kami sehingga kami dapat meneladani nabi-Mu Yusuf a.s. Inilah kisah orang yang mampu menjaga kehormatannya di masa sekarang. Orang yang sanggup mengatakan, "Tidak ada ruang untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah!" Ia telah mampu meraih salah satu sifat kenabian.

Adakah keinginan dalam diri kita untuk dapat berdampingan dengan Nabi Yusuf kelak di akhirat?
Jika keinginan itu masih ada dalam diri kita, kita mesti memiliki kemampuan untuk menjaga kehormatan, memiliki sifat iffah, dan kita mesti memiliki akhlak yang mulia sebagaimana keteladanan yang diajarkan para nabi.
Readmore »» Keteladanan

Hadits Sufistik


Kecerdasan Hakiki
Dikutip dari : Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

"Orang yang cerdas adalah orang yang meneliti dirinya sendiri dan melakukan amaliyah demi zaman sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan sembari berkhayal atas (anugerah) Allah"

Amaliyah dibalik rahasia hadits di atas adalah amal Ma'rifat. perlu diketahui Ma'rifat itu dari hamba, sedangkan pelimpahan ma'rifat itu dari Allah SWT, yang merupakan hidayah paling mulia dan paling agung, yang ditujukan kepada para hambaNya.

Sesungguhnya Allah SWT manakal ingin memilih hambaNya dan memberikan keistimewaan lebih dibanding yang lainnya, dan hendak menampakan dalam Sirr hamba, matahari ma'rifat, maka Allah, Allah memandang dengan Mata Ma'rifat dan kasih sayanag juga ia dibukakan pintu-pintu hidayah, kemudian dimuliakan dengan kesadaran, dibangunkan dari tidur kealpaan, diberi nikmat dengan anugerah keleluasaan hati, bahkan dihapuskan dari kematian qalbu melalui kefahaman, dihilangkan dari keraguan, dimuliakan dengan rasa malu, rasa takut, rasa yaqin dan keraguan dimusnahkan, disamping mendapatkan rasa tentram.

Manakala terakumulasi seluruh perilkau tersebut pada diri hamba, maka ruang kalbunya dipenuhi cahaya yang memancar, maka ia akan melihat apa yang ada dibalik alam jabarut, dan jilatan-jilatan api termatikan. seandainya saja kema'rifatan itu terukir pada suatu benda, maka siapapun yang memandangnya akan mati, karena keindahan dan kebagusannya. Setiap seseorang punya modal harta, sedangkan modal orang beriman adalah ma'rifat.

Ada seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al-Mishry ra, :
"Sungguh aku mencintaimu".
"Bila engkau mengenal Allah, maka cukup Allah saja. Bila belum mengenalNya, carilah orang yang mengenalNya hingga orang itu menunjukan padamu pada Allah, "jawab Dzun Nuun al-Mishry".

Marifat adalah Pohon Terbagus

Menurut saya ma'rifat itu seperti pohon yang digarap oleh seorang pemilik kebunnya. Buah-buahnya sangat mahal, dan rimbun cabang tangkainya. Manis sekali buahnya. Subur pula dedaunannya. Tinggi pohonnya, bersih indah tanahnya. Manis airnya, Wangi aromanya. Pemilik sangat sayang karena kemuliaan kebun itu, disertai rasa gembira karena kesuburannya. Ia selalu jaga dari penyakit-penyakit yang menyerangnya dan menjaga pula dari bencana yang menimpanya.

Begitu juga Pohon Ma'rifat yang digarap oleh Allah SWT dalam taman hati hambaNya yang beriman, tentu sngat terjaga o;eh kemuliaanNya. Setiap saat akan dikirim awan hujan anugerah dari sumber rahmatNya. Lalu mencurahlah hujan kemuliaan, melalui petir KuasaNya, dan kilatan KehendakNya, agar bersih suci dari debu-debu memandang hasil 'ubudiyahnya. Lalu Allah mengirimkan ramutan kelembutan kasih sayang dari hijab Pertolongan, agar sempurna kemuliaan kewaliannya, melalui penjagaan dan kewaspadaan.

Seorang yang 'arif (ma'rifat) senantiasa berkeliling dengan rahasia batinnya dibawah pohon ma'rifat, dan diputus dari penghalang adab, hal-hal yang bisa merusak buah-buah ma'rifat, dari kotoran dan sampah penyakit.

Tiba-tiba begitu panjang Sirr sang air dibawah pohon itu, begitu berlangsung lama perjalanan disana, lalu terhentak untuk menikmati buahnya. Lalu ia julurkan tangan kesucian, ia peras buah itu dengan perasaan kehormatan, kemudian ia makan dengan bibir kerinduan, hingga ia lebur dalam gairah ketenggelaman. lalu tangan keleluasaan memukul samudera kasih sayang, dari samudera itu ia meminum seteguk yang bisa memabukan dari segala hal selain Allah, kemabukan yang tak menyadarkan dirinya melainkan dengan Pertolongan jua. Lalu ia tebang dengan sayap-sayap citarasa, menuju suatu wilayah yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun jua.

Al-Wasithy ditanya, "Makanan apa yang paling enak?"
Ia menjawab, "Sesuap dari dzikurullah Ta'ala, yang disuapkan oleh jemari yaqin, dari hidangan keabadian, ketika dihadapkan sikap baik sangka (husnudzon) kepada Allah SWT.

An-Nasaj ra, berkata, "Banyak penghuni dunia meninggalkan dunia, tetapi sayang mereka belum merasakan kebagusan yang dituju."
"Apa itu?"
"Kebahagiaan ma'rifat, kemanisan anugerah, kelezatan qurbah, dan kemesraan Cinta," katanya.
Muhammad bin Wasi' ra, berkata pula, "Sungguh benar, orang yang dimuliakan Allah melalui ma'rifat kepadaNya, dimana ia tidak menghinakan dirinya kepada selain Allah.

Dan benar pula orang yang dilimpahi kewalian Allah SWT, hendaknya tetap memegang teguh keharusan haknya. Benar pula bagi orang yang dimuliakan Allah dengan kesertaaNya padanya, hingga ia tidak lagi menoleh kepada selain Allah SWT, tidak beramal dengan dorongan nafsunya."

Abu Yazid al-Bisthamy juga berkata, "Sebenarnya dalam suatu malam itu ada minuman bagi jiwa para arifin, dimana hati mereka terbang dengan penuh cinta kepada Allah SWT, digelorakan rindu padaNya, hanya saja pandangan mereka tidak kepada yang lain, hanya kepada Allah SWT. mereka disirnakan dari pandangan dunia dan akhirat.

Menurut saya, minuman itu adalah kebimbangan cinta, dan itu terbagi dua, bimbang penuh dengan ketakutan, bimbang dengan kedahsyatan cinta bagi orang arif dan perindu. O, bukti orang-orang yang bimbang hati kerinduan, tambahi diriku, tambahkan rasanya...
Readmore »» Hadits Sufistik

Software Hadits


Sebagai umat islam kita harus berpegang pada Al-Qur'an dan Hadist, dalam era ngilmu teknologi Kumpulan Hadistpun bisa kita baca kapan saja tanpa kita khawatir akan rusak (sobek bo.. ) tinggal kita buka program Hadistweb3. Program ini juga dilengkapi dengan Al-Qur'an terjemahan..
Link download Hadistweb3 klik disini
Readmore »» Software Hadits
top